Sebagai makhluk sosial, sebaiknya kita bisa berteman dengan siapa saja tanpa membedakan ras, suku, warna kulit, bahkan agama. Akan tetapi, di dalam Islam kita dianjurkan untuk hati-hati memilih teman karena bisa saja kita terpengaruh dengan teman kita.
Dalam sebuah hadis Rasulullah saw bersabda, "Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh dan orang yang buruk, bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu, engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak sedap.” (HR. Imam Bukhari).
Hadis di atas bukan bermakna menyinggung suatu profesi. Akan tetapi hadis di atas hanyalah perumpamaan bahwa lingkungan pergaulan seseorang bisa mempengaruhi kehidupannya.
Misalnya, ketika seseorang bergaul dengan orang saleh yang ahli ibadah, bisa saja ia akan ikut ibadah pula. Sebaliknya, ketika seseorang bergaul dengan orang ahli maksiat, jika tidak kuat imannya maka bisa jadi ia terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak baik.
Salah satu bukti bahwa seorang teman bisa mempengaruhi adalah kisah antara persahabatan Salman dan Abu Darda' berikut ini.
Dari Abu Juhaifah Wahb bin Abdullah ia berkata, "Suatu ketika Nabi saw pernah membantu hubungan pertemanan antara Salman dan Abu Darda’.
Saat Salman berkunjung ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang kusut.
Salman lantas bertanya, "Mengapa engkau dalam keadaan seperti itu?”
Istri Abu Darda’ menjawab, "Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan (zuhud)."
Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuat suatu makanan untuk Salman. Abu Darda’ lalu berkata kepada Salman, “Makanlah, karena saya sedang berpuasa.”
Salman menjawab, “Saya tidak akan makan sebelum engkau juga makan.” Maka Abu Darda’ pun makan.
Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan salat malam. Salman yang melihatnya kemudia berkata, “Tidurlah.” Abu Darda’ pun tidur kembali.
Lalu saat Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan salat malam, Salman lagi-lagi berkata, “Tidurlah!”
Hingga pada akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah!” Lalu mereka salat bersama-sama.
Setelah itu, Salman berkata kepada Abu Darda’, “Sesungguhnya bagi Tuhanmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.“
Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi saw untuk menceritakan apa yang baru saja terjadi. Rasulullah saw kemudian bersabda, “Salman itu benar.” (HR. Imam Bukhari).
Dari hadis di atas kita bisa mengambil pelajaran dari Salman yang mengingatkan kepada Abu Darda’ bahwa walaupun zuhud, seseorang tidak boleh lupa dengan tanggung jawab lainnya, baik pada diri sendiri maupun pada keluarga dan yang lainnya.
Wallahu a'lam.[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar