Jumat, 29 Agustus 2025

Jurnal PTK Lusi Ratna Sari

KEGIATAN EKSTRAKULIKULER PILIHAN YANG TIDAK AKTIF DI SD AL-QURAN AL-HIKMAH SIMPANG III LUBUK BASUNG

 

Lusi Ratna Sari S.Pd

SD AL-QURAN AL-HIKMAH SIMPANG III LUBUK BASUNG

Email :lusiratnasari0123@gmail.com

 

ABSTRAK

Ekstrakulikuler merupakan program sekolah yang bertujuan untuk mengembangkan potensi, minat dan bakat siswa. Selain itu juga sebagai bahan untuk meningkatkan prestasi siswa. Dalam pelaksanaanya, dibutuhkan pengelolaan yang baik dan teratur agar kegiatan ekstrakulikuler ini dapat berjalan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kegiatan ekstrakulikuler di Sd Al-Quran Al-Hikmah Simpang III Lubuk Basung. Dengan menggunakan metode pengamatan dan observasi selama melakukan proses belajar mengajar pada tahun 2020-saat ini. Dari hasil penelitain ini didapat kegiatan ekstrakulikuler pilihan yang kurang berjalan dengan baik sehingga oleh peneliti diberikan solusi. Dalam tahapannya solusi itu 1) Membuat SOP /aturan baku pengelolaan ekstrakulikuler. (2) Membuat sistem pendaftaran yang lebih mudah untuk orang tua. (3) Membuat rencana pembelajaran satu semester untuk setiap jenis ekskul.

Keywords : Ekstrakulikuler,PLK

ABSTRACT

Extracurricular activities are school programs aimed at developing students' potential, interests, and talents. They also serve as a means of improving student achievement. Their implementation requires proper and orderly management to ensure smooth operation. This study aims to determine the effectiveness of extracurricular activities at Al-Quran Al-Hikmah Elementary School, Simpang III, Lubuk Basung. This study used observation and observation methods during the teaching and learning process from 2020 to the present. The results of this study revealed that selected extracurricular activities were not performing well, leading the researcher to propose solutions. The steps involved: (1) Creating standard operating procedures (SOPs) for extracurricular management. (2) Creating a registration system that is easier for parents. (3) Creating a semester-long learning plan for each type of extracurricular activity.

Keywords: Extracurricular, PLK

 

PENDAHULUAN

Minat, keterampilan, dan kreativitas siswa adalah salah satu faktor terpenting dalam keberhasilan suatu pendidikan yang bermutu. Minat adalah, sifat pribadi yang mempunyai kecenderungan lebih memperhatikan yang disukainya, sedangkan bakat mengacu pada kemampuan sesorang dengan pendidikan khusus untuk memperoleh keterampilan, pengetahuan, dan kemampuan tertentu dalam bidangnya, misalnya bermusik, atau kecakapan berbahasa (Aciakatura et al., 2021).

Minat dan bakat merupakan bagian psikologis siswa yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan, maka seluruh komponen yang terlibat dalam ranah pendidikan sudah seharusnya menjamin pemerataan pendidikan, peningkatan mutu kualitas, serta manajemen Pendidikan (Nurdiana, 2021). Hal ini perlu diperhatikan agar kemampuan anak berbakat tidak mengalami penurunan. Untuk memastikan hal tersebut, siswa berbakat harus diberikan perhatian lebih dalam mengembangkan potensinya. Yayasan pendidikan memiliki tugas untuk menjadi wadah bagi peserta didik, untuk menjadikan mereka manusia yang siap menghadapi tantangan masa depan. Karena ada 2 alasan mengapa sekolah harus mengembangkan minat dan bakat siswa yaitu, membangun masa depannya dan membuat ia mengenali dirinya sendiri (Anggraini et al., 2020).

Kegiatan pengembangan minat dan bakat di sekolah dilaksanakan dengan kegiatan ekstrakulikuler, dengan melibatkan seluruh element pendidikan, baik dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, sarana dan prasarana dsb. Ekstrakurikuler adalah kegiatan pembelajaran yang dilakukan di luar jam pembelajaran inti dengan tujuan untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, serta kemandirian siswa secara optimal untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan (Shilviana & Hamami, 2020). Menurut bukti dengan adanya kegiatan ini menjadikan siswa mampu menemukan bakat, potensi juga kemampuan yang dia miliki. Hal ini juga dapat meningkatkan prestasi siswa.

Namun sayang pada realitanya, banyak sekolah yang tidak dapat melaksanakan kegiatan ekstrakulikuler dengan baik. Walaupun hampir semua sekolah telah memiliki ekstrakulikuler wajib seperti pramuka, masih saja ada kendala yang menyebabkan kegiatan ekstrakulikuler menjadi kurang maksimal. Hal itu disebabkan oleh pengelolaan kegiatan yang kurang baik atau beberapa faktor eksternal yang kurang puas dengan kegiatan tersebut.

Dalam pelaksanaan ekstrakulikuler yang dilakukan peneliti selama 6 bulan belakangan ini peneliti menemukan fenomena yag terjadi. Banyak permasalahan yang muncul, diantaranya :

1.       Berawal dari pemilihan jenis ekstrakulikuler, banyak masukan dari guru guru terkait jenis ekskul yang di laksanakan. Pengelompokan pun di buat, dari mulai pengelompokan jenis ekskul diantaranya pramuka, osis dan menari

2.       Masalah yang kemudian muncul adalah ada beberapa jenis ekskul yang jumlah kepesertaan siswa nya kurang sehingga biaya operasional dan insentif pelatih tidak terpenuhi. Selain itu ada beberapa jenis ekskul yang ternyata perlu pembelajaran individual sehingga harus menggunakan sisten privat yang idealnya dengan pembiayaan khusus.

3.       Masalah yang kemudian muncul adalah ada beberapa jenis ekskul yang jumlah kepesertaan siswa nya kurang sehingga biaya operasional dan insentif pelatih tidak terpenuhi. Selain itu ada beberapa jenis ekskul yang ternyata perlu pembelajaran individual sehingga harus menggunakan sisten privat yang idealnya dengan pembiayaan khusus.

4.       Semua itu terjadi karena belum adanya aturan / SOP yang menjadi acuan pengelolaan kegiatan ekskul

Dari beberapa masalah yang muncul diawal kegiatan ekstrakulikuler membuat keterserapan jumlah siswa untuk setiap jenis ekskul belum maksimal. Itu dapat terlihat dari jumlah siswa yang masuk ke setiap jenis ekskul tidak merata. Ada ekskul yang jumlahnya banyak, tapi ada juga yang jumlahnya sedikit. Berikut gambaran jenis ekskul dan keterserapan siswa kedalam setiap jenis ekskul:

Tabel 1. Jumlah Peserta setiap Jenis Ekskul

No

JENIS EKSKUL

JUMLAH PESERTA

1.

PRAMUKA

33

2.

OSIS

11

3.

MENARI

6

 

Melihat dari berbagai problem yang menghambat kegiatan Ekstrakulikuler diatas, maka dibutuhkan pengelolaan yang baik dan benar bagi lembaga sekolah. Hal ini perlu diperhatikan melihat realitanya bahwa ekstrakulikuler mampu meningkatkan prestasi siswa dibidang akademik maupun non akademik

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan metode penelitian dengan pendekatan deskriptif kualitatif Pendekatan ini menguraikan data yang diperoleh sesuai keadaan yang terjadi di lapangan serta mengasumsikan secara filosofis yang berbeda. Program kegiatan yang diteliti adalah kegiatan ekstrakulikuler, yang sangat berpengaruh pada peningkatan prestasi peserta didik. Adapun teknik yang digunakan dalam penelitian ini dengan menjabarkan data-data yang diperoleh dari hasil wawancara, dokumentasi serta observasi kegiatan dari perencanaan, pengelolaan serta pelaksanaannya

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Merujuk pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 62 Tahun 2014 tentang Kegiatan Ekstrakurikuler pada Pendidikan Dasar dan Menengah, kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan pembinaan karakter yang bertujuan untuk memaksimalkan potensi, keterampilan, minat, bakat, dan kepribadian berkembang, kerjasama dan kemandirian siswa di luar waktu belajar, kegiatan internal dan kegiatan sampingan di bawah arahan dan pengawasan satuan pengajaran.

Semua kegiatan kesiswaan bertujuan untuk pengembangan diri mahasiswa. Pengembangan diri adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, kemampuan dan minat masing-masing siswa dan tergantung pada kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri yang dilaksanakan di luar jam pelajaran (di luar kelas) dipimpin oleh guru yang berkualitas atas perintah kepala sekolah. Disediakan 2 jam pelajaran (setara 2 x 30 menit) untuk membagi waktu kegiatan antara kelas I dan IV.

Harus dilakukan upaya untuk menghilangkan faktor-faktor yang menghambat pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler, menjalin komunikasi yang baik antara pengurus dan pelatih serta pemangku kepentingan lainnya serta melibatkan semua pihak dalam proses pengambilan keputusan sehingga semua pihak turut bertanggung jawab atas kelancaran pelaksanaan. sekolah yang bertanggung jawab.

Tindakan yang diambil dari sekian banyak permasalahan yang muncul, terdapat beberapa alternatif solusi yang diterapkan untuk mengatasi permasalahan tersebut. 

Berdasarkan siklus pemecahan masalah diatas, prosesnya dimulai dengan analisis situasi kegiatan ekstrakulikuler di semester 1. Adapun dari hasil analisis yang diperoleh, muncul beberapa masukan baik itu dari ibu bapa guru, pelatih ataupun orang tua siswa, diantaranya:

1.       Dibuatkan SOP yang untuk seluruh kegiatan ekskul.

2.       Dibuat pengelompokan jenis ekskul yang regular dan                 privat agar dapat memudahkan dalam menentukan pembiayaan setiap jenis ekskul.

3.       Di siapkan konsep promosi yang lebih menarik serta system pendaftaran yang lebih memudahkan orang tua untuk mendaftarkan putra putrinya pada kegiatan ekskul.

4.       Dilakukan penilaian pimpinan terhadap tim pelatih, dari mulai kehadiran, kinerja dan prestasi yang dihasilkan.

5.       Ditentukan jumlah minimal siswa untuk setiap jenis ekskul, sehingga untuk pembiayaan setiap jenis ekskul dapat tercukupi.

Hambatan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di SD Al-Quran antara lain:

a.        Sarana atau prasarana kegiatan yang masih dirasa kurang oleh pelatih dan siswa.

b.       Waktu yang tersedia untuk kegiatan di luar kelas dianggap langka

c.        Siswa cukup antusias dan tertarik untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.

d.       Evaluasi kegiatan ekstrakurikuler jarang dilakukan

Hasil penelitian ini yaitu kurang maksimalnya ekstrakulikuler pilihan yang ada di SD Al-Quran dikarenakan pengelolaannya yang kurang efektif. Mulyono menjelaskan kegiatan ekstrakurikuler dan pengelolaan kegiatan eksternal adalah semua proses yang direncanakan dan dikelola di luar kelas dan di luar kelas (kurikulum) dalam kegiatan sekolah secara terorganisir untuk meningkatkan potensi sumber daya manusia (SDM). Peserta didik dikembangkan, baik yang berkaitan dengan penerapan ilmu yang diperolehnya maupun dalam arti khusus membimbing peserta didik dalam mengembangkan potensi dan kemampuannya melalui kegiatan wajib dan pilihan.

 

KESIMPULAN

Menurut hasil dan pembahasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler SD AL-Quran menghadapi banyak masalah. Hanya pada perjalanannya terus disempurnakan dengan harapan ada perbaikan dalam pengelolaannya. Ada beberapa perencanaan dan solusi yang disiapakan, diantaranya: (1) Membuat SOP /aturan pengelolaan ekstrakulikuler. (2) Membuat sistem pendaftaran yang lebih mudah untuk orang tua. (3) Membuat rencana pembelajaran satu semester untuk setiap jenis ekskul. (4) Secara umum pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler sedang berlangsung, hanya kegiatan pengendalian dan evaluasi yang menjadi tanggung jawab administrasi sekolah belum terlaksana secara optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Aciakatura, C., Magdalena, I., Zahranisa, A., & Latipatun Zahro, N. (2021). Analisis Pengembangan Minat dan Bakat Siswa pada Siswa Sekolah Dasar. Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia, 1(2). https://doi.org/10.36418/cerdika.v1i2.15

Anggraini, I. A., Utami, W. D., & Rahma, S. B. (2020). Analisis Minat dan Bakat Peserta didik terhadap Pembelajaran. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar, 7(1).

Arifudin, O. (2022). Optimalisasi Kegiatan Ekstrakurikuler dalam Membina Karakter Peserta Didik. JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 5(3). https://doi.org/10.54371/jiip.v5i3.492

Ardiansyah, M., Tamyiz, & Sarpendi. (2022). Pengelolaan Ekstrakulikuler Dalam Pembinaan Prestasi Non Akademik Siswa Di Madrasah Aliyah Hidayatul Mubtadiin Sidoharjo Jati Agung Lampung Selatan Tahun Pelajaran 2021/2022. Material Safety Data Sheet, 33(1).

Hakim, L. (2019). Manajemen Kurikulum Ekstrakulikuler Rebana di Madrasah Aliyah Qudsiyyah Kudus. Eprints.Walisongo.Ac.Id.

Magdalena, I., Ramadanti, F., & Rossatia, N. (2020). Upaya Pengembangan Bakat atau Kemampuan Siswa Sekolah Dasar melalui Ekstrakurikuler. Bintang: Jurnal Pendidikandan Sains, 2(2).

Nurdiana, N. S. S. (2021). Pengembangan Minat dan Bakat Peserta Didik Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler. Jurnal Bimbingan Konseling Islam, 2(2).

Shilviana, K., & Hamami, T. (2020). Pengembangan Kegiatan Kokurikuler dan Ekstrakurikuler. PALAPA, 8(1). https://doi.org/10.36088/palapa.v8i1.705

Tdahjono, E. B., M. Yusuf, & Irwansyah. (2019). Analisis Pengelolaan Dan Minat Baca Taruna Di Perpustakaan Amirullah Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Menuju Standar Nasional         Perpustakaan.                     Meteor                        STIP                 Marunda, 12(1).  https://doi.org/10.36101/msm.v12i1.63

 

Senin, 18 November 2024

BERMUKA DUA

18 November 2024 Lusi Ratna Sari 

Fenomena bermuka dua, atau dalam istilah agama Islam dikenal dengan sifat nifaq (munafik), adalah sikap seseorang yang menunjukkan wajah atau sikap berbeda di hadapan orang yang berlainan. 

Orang yang bermuka dua di satu sisi, orang tersebut bisa terlihat loyal dan mendukung, namun di sisi lain, ia bisa melakukan tindakan yang bertentangan dengan apa yang ia tampilkan. 

Sifat ini sangat tercela dalam Islam dan membawa dampak buruk baik bagi individu maupun sosial. Rasulullah SAW. sangat keras dalam mengecam perilaku munafik ini karena dampak negatifnya yang sangat luas.

Keperibadian  bermuka dua adalah manifestasi dari ketidakjujuran, di mana seseorang tidak konsisten antara pernyataan, tindakan, dan niatnya. 

Dalam konteks pergerakannya, orang yang bermuka dua biasanya terlibat dalam berbagai situasi sosial dengan dua perilaku yang berbeda: di depan orang tertentu ia menampilkan sikap positif dan mendukung, sementara di belakang mereka, ia justru melakukan kebalikan.

Al-Qur'an menyoroti sifat ini dengan jelas dalam beberapa ayat::
"وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ"
"Dan di antara manusia ada yang mengatakan: 'Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,' padahal mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri tanpa mereka sadari." (QS. Al-Baqarah: 8-9)

Penyebab Munculnya Sifat Bermuka Dua

1. Kepentingan Duniawi dan Hasrat Kekuasaan

Seringkali orang yang bermuka dua didorong oleh ambisi duniawi, baik berupa kekuasaan, harta, maupun pengaruh. Mereka merasa perlu menggunakan topeng yang berbeda di hadapan berbagai kelompok agar dapat mempertahankan atau mencapai apa yang mereka inginkan. Penyebab ini dikaitkan dengan penyakit hati seperti riya' dan tamak.
Sabda Rasulullah:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ، قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil (riya’).” (HR. Ahmad)

2. Kelemahan Iman

Sifat bermuka dua muncul dari kelemahan iman, di mana seseorang tidak memiliki keyakinan yang kuat terhadap Allah dan tidak takut terhadap hukuman-Nya. 

Orang bermuka dua atau munafik hanya mengutamakan citra di hadapan manusia, bukan ketulusan di hadapan Allah.
Sahabat Abdullah bin Mas'ud berkata: 
إِنَّ النِّفَاقَ أَن يُحَدِّثَ الإِنسَانُ بِلِسَانِهِ مَا لَيْسَ فِي قَلْبِهِ
“Sesungguhnya nifaq itu adalah seseorang berbicara dengan lisannya sesuatu yang tidak ada dalam hatinya.” (Ibnu Abi Syaibah)

3. Ketidakmampuan Menghadapi Tekanan Sosial

Banyak yang bermuka dua karena ketidakmampuan untuk bersikap tegas dalam menghadapi tekanan sosial. Mereka takut akan penilaian negatif dari orang lain sehingga memilih untuk bersikap dua muka.
Al-Qur'an menyoroti perilaku ini:
"وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ"
“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: ‘Kami telah beriman.’ Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.’” (QS. Al-Baqarah: 14)

Bahaya Bermuka Dua bagi Individu

1. Hilangnya Kepercayaan Diri dan Martabat

Orang yang bermuka dua lama-kelamaan akan kehilangan kepercayaan dari orang di sekitarnya. Ketika kebohongan mereka terbongkar, mereka tidak lagi dihormati atau dipercaya.
Ibnul Qayyim berkata: 
إِذَا رَأَيْتَ الشَّخْصَ مُتَصَنِّعًا فِي كُلِّ حَالٍ، فَاعْلَمْ أَنَّهُ مُنَافِقٌ"
“Jika engkau melihat seseorang yang selalu berpura-pura dalam segala situasi, ketahuilah bahwa dia adalah seorang munafik.” (Ibnul Qayyim, Madarij As-Salikin)

2. Jiwa Tertekan

Individu yang selalu bermuka dua akan hidup dalam tekanan batin, karena selalu harus menyesuaikan dirinya sesuai dengan kelompok yang dihadapinya. Ini menciptakan konflik internal dan ketidaktenangan dalam hidup.
Sabda Rasulullah :
"تَجِدُ مِن شَرِّ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ذَا الْوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ"
“Engkau akan mendapati seburuk-buruk manusia pada hari kiamat adalah mereka yang bermuka dua, yang datang kepada satu kelompok dengan satu wajah, dan kepada kelompok lain dengan wajah yang berbeda.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahaya bagi Sosial

1. Memecah Belah Persatuan

Orang bermuka dua menjadi penyebab utama perpecahan dalam masyarakat, karena mereka cenderung mengadu domba antara dua kelompok atau individu yang berbeda. Ini bisa menimbulkan konflik yang lebih besar dan merusak harmoni sosial.
Al-Qur'an menyatakan: 
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)

2. Menghancurkan Kepercayaan Sosial

Ketika bermuka dua menjadi sifat yang tersebar dalam masyarakat, kepercayaan antarindividu dan kelompok akan runtuh. Setiap orang akan merasa curiga terhadap yang lain, menganggap bahwa setiap interaksi mungkin dilandasi ketidakjujuran.

Solusi dalam Mengatasi Sifat Bermuka Dua

1. Meningkatkan Keimanan dan Ketakwaan

Seseorang perlu memperkuat imannya melalui taubat, memperbanyak ibadah, dan memperdalam ilmu agama. Dengan keyakinan yang kuat akan pengawasan Allah, seseorang akan lebih berhati-hati dalam bersikap jujur dan tulus.
Allah berfirman: 
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma'idah: 27)

2. Bersikap Transparan dan Jujur

Menghindari sikap bermuka dua dengan berkomitmen untuk selalu bersikap jujur dan terbuka, baik dalam niat maupun tindakan. Rasulullah SAW.menegaskan pentingnya kejujuran:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ
“Hendaklah kalian selalu jujur, karena kejujuran itu mengantarkan kepada kebaikan.” (HR. Muslim)

3. Membangun Kesadaran Sosial

Masyarakat perlu diedukasi tentang bahaya sifat bermuka dua dan pentingnya menjaga persaudaraan. Dialog dan diskusi terbuka dapat membantu mencegah munculnya perilaku ini di lingkungan sosial.

Peran Pendidikan dalam Mencegah Sifat Bermuka Dua[

Pendidikan memiliki peran krusial dalam membentuk karakter individu, termasuk dalam menghindari sifat bermuka dua. Pendidikan tidak hanya berbicara tentang transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan akhlak dan karakter yang mulia. 

Dalam Islam, konsep pendidikan moral dan spiritual sangat ditekankan untuk menciptakan generasi yang jujur, adil, dan berintegritas.

1.Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai moral seperti kejujuran, keadilan, dan rasa tanggung jawab sejak usia dini. 

Dalam pendidikan Islam, akhlak yang mulia adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran. Rasulullah ﷺ menekankan pentingnya pendidikan akhlak dengan sabdanya:
"إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ"
"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad)

Oleh karena itu, pendidikan yang mengutamakan nilai-nilai kejujuran akan membantu individu untuk menghindari sifat bermuka dua, karena sejak dini mereka sudah dilatih untuk selalu jujur dalam perkataan dan perbuatan.

2. Pembinaan Moral di Lingkungan Keluarga

Keluarga adalah madrasah pertama bagi setiap individu. Nilai-nilai yang diajarkan di lingkungan keluarga sangat mempengaruhi bagaimana seseorang bersikap di kemudian hari. 

Oleh karena itu, orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan nilai kejujuran dan integritas kepada anak-anak mereka.
Rasulullah bersabda:
"كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ"
"Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah (suci), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. Bukhari dan Muslim)

3.Pendidikan Islam dan Tarbiyah

Dalam pendidikan Islam, konsep tarbiyah sangat penting. Tarbiyah adalah proses pembinaan yang menyeluruh, mencakup aspek spiritual, moral, intelektual, dan sosial. Dalam konteks ini, tarbiyah tidak hanya mencakup transfer ilmu, tetapi juga penanaman akhlak dan etika yang mulia, termasuk kejujuran. Proses tarbiyah yang berkelanjutan akan membantu individu untuk menghindari sifat nifaq dan membangun karakter yang kuat.

Kesimpulan

Fenomena bermuka dua adalah salah satu penyakit hati yang paling berbahaya karena ia tidak hanya merusak hubungan individu dengan Allah, tetapi juga mengancam integritas sosial. 

Islam dengan tegas melarang sifat nifaq karena ia bertentangan dengan nilai-nilai dasar agama, seperti kejujuran, keikhlasan, dan rasa takut kepada Allah.

Solusi untuk mengatasi sifat bermuka dua adalah dengan memperkuat iman, meningkatkan muhasabah diri, memilih lingkungan yang positif, dan membangun pendidikan yang menekankan kejujuran dan akhlak mulia. 

Dengan demikian, setiap individu dapat menjadi hamba Allah yang jujur, baik dalam hubungan dengan Allah, sesama manusia, maupun dengan dirinya sendiri..

SEMOGA BERMANFAAT

Rabu, 25 September 2024

5 Pola Hidup Sehat Ala Nabi Muhammad

Sabtu, 08 Juni 2024

PENTINGNYA MEMELIHARA RASA MALU


Kita sekarang hidup di zaman, yang menunjukkan manusia benar-benar lebih sesat dibandingkan dengan binatang. Hal ini dapat ditunjukkan dengan marakanya kasus-kasus seperti, seorang ayah yang membunuh anaknya, korupsi, pemerkosaan, penipuan, para wanita yang suka mengumbar auratnya, mengumbar kata-kata kotor, dan lain-lain. Hal ini disebabkan karena hilangnya rasa malu pada diri seseorang. Oleh karena itu, kita sebagai umat islam harus senantiasa menmelihara dan menjaga rasa malu dengan hati-hati , baik dalam ucapan maupun perbuatan.
Definisi malu dari segi bahasa adalah ( al-hayâ’ ) yang artinya menahan diri dari melakukan sesuatu dengan alasan takut akan celaan dari orang lain. Sedangkan secara istilah malu adalah salah satu akhlak terpuji yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan yang jelek dan menahan dirinya dari merampas hak orang lain.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al Hakim, beliau berkata:

 اَلْـحَيَاءُ وَ اْلإِيْمَانُ قُرِنَا جَمِـيْعًا ، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ اْلاَ خَرُ

       Artinya: “Iman dan malu merupakan pasangan dalam segala situasi dan ini kondisi. Apabila rasa malu sudah tidak ada, maka iman pun sirna.” (HR. Al Hakim).

Ada juga hadis yang mengatakan bahwa “malu itu sebagian dari iman”

Bentuk malu dalam islam terbagi menjadi 3:

1. Malu kepada Allah

Artinya seseorang yang memiliki rasa malu kepada Allah , maka ia akan berusaha untuk meninggalkan segala sesuatu yang dibenci oleh Allah SWT dan mengerjakan segala sesuatu yang dicintai oleh Allah. Sifat malu kepada Allah akan mengantarkan pemiliknya malu untuk berbuat dosa, karena sifat muraqabatullah yaitu sifat merasa selalu terikat oleh Allah dalam setiap kondisi kapanpun dan dimanapun.

2. Malu untuk diri sendiri

Artinya seseorang harus mempunyai rasa malu pada dirinya sendiri. Malu kepada diri sendiri berarti malu ketika ingin melakukan kesalahan tatkala sendiri. Sehingga ketika memiliki niat untuk berbuat dosa tatkala sendiri, malu karena menahan diri untuk melakukannya.

3. Malu kepada orang lain

Artinya tidak hanya malu kepada Allah dan diri sendiri, kita harus memiliki malu kepada orang lain. Orang yang memiliki rasa malu kepada orang lain, maka ia tidak akan berani melakukan kesalahan atau kesalahan di hadapan orang lain.

Dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa kita sebagai seorang muslim harus menjaga dan memelihara rasa malu karena malu adalah sebagian dari iman.  

Jurnal PTK Lusi Ratna Sari

KEGIATAN EKSTRAKULIKULER PILIHAN YANG TIDAK AKTIF DI S D AL-QURAN AL-HIKMAH SIMPANG III LUBUK BASUNG   Lusi Ratna Sari S.Pd S D AL-Q...