Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al Hakim, beliau berkata:
اَلْـحَيَاءُ وَ اْلإِيْمَانُ قُرِنَا جَمِـيْعًا ، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ اْلاَ خَرُ
Artinya: “Iman dan malu merupakan pasangan dalam segala situasi dan ini kondisi. Apabila rasa malu sudah tidak ada, maka iman pun sirna.” (HR. Al Hakim).
Ada juga hadis yang mengatakan bahwa “malu itu sebagian dari iman”
Bentuk malu dalam islam terbagi menjadi 3:
1. Malu kepada Allah
Artinya seseorang yang memiliki rasa malu kepada Allah , maka ia akan berusaha untuk meninggalkan segala sesuatu yang dibenci oleh Allah SWT dan mengerjakan segala sesuatu yang dicintai oleh Allah. Sifat malu kepada Allah akan mengantarkan pemiliknya malu untuk berbuat dosa, karena sifat muraqabatullah yaitu sifat merasa selalu terikat oleh Allah dalam setiap kondisi kapanpun dan dimanapun.
2. Malu untuk diri sendiri
Artinya seseorang harus mempunyai rasa malu pada dirinya sendiri. Malu kepada diri sendiri berarti malu ketika ingin melakukan kesalahan tatkala sendiri. Sehingga ketika memiliki niat untuk berbuat dosa tatkala sendiri, malu karena menahan diri untuk melakukannya.
3. Malu kepada orang lain
Artinya tidak hanya malu kepada Allah dan diri sendiri, kita harus memiliki malu kepada orang lain. Orang yang memiliki rasa malu kepada orang lain, maka ia tidak akan berani melakukan kesalahan atau kesalahan di hadapan orang lain.
Dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa kita sebagai seorang muslim harus menjaga dan memelihara rasa malu karena malu adalah sebagian dari iman.