Lebaran tahun ini terasa sangat berat bagi Saya pekerja guru swasta di Jakarta yang tidak bisa pulang ke kampung halamannya di Padang Sumatera Barat.
Makna, momen, dan kehangatan dari perayaan Idul Fitri tahun ini hilang, menurutnya saya.
"Sekarang benar-benar sendiri di perantauan. Merayakan Lebaran sendiri dan rasanya seperti tidak ada Lebaran, seperti hari-hari biasa saja,"
Saya melaksanakan salat Idul Fitri dimasjid ad takwir Kotabumi Pasar Kemis kabupaten Tangerang. Setelah itu, Saya menghabiskan momen-momen Lebaran dengan bersilaturahmi dengan tetangga meminta maaf selanjutnya secara virtual melalui video telepon dengan keluarga.
Ini pengalaman pertama saya karena tahun sebelumnya pasti pulang kampung dan bareng keluarga salat Id di masjid, lalu silaturahmi ke rumah keluarga. Sedih, sedih bangetlh pokoknya"
Sedih sekali: Salat Id dan Lebaran sendirian'
Tahun 2021 merupakan tahun yang berat bagi Saya (Lusi Ratna Sari), seorang guru pekerja swasta di Jakarta. Perempuan kelahiran Padang. Belakangan ini, virus corona juga membuat saya tidak bisa bertemu dengan keluarga di Padang untuk merayakan Lebaran.
Saya menghabiskan waktu perayaan Lebaran sendirian di kos. Sambil mendengar suara takbir, melaksanakan salat Idul Fitri, dan bersilaturahmi dengan keluarga secara virtual di dalam kamar.
"Sedih, merasa sepi. Biasanya berkumpul, makan, saling cerita dengan keluarga, salat bersama-sama. Sekarang kegiatanya seperti biasa saja di kos. Tidak ada perbedaan, seperti tidak merasakan Lebaran, benar-benar sendiri, di perantauan sendiri,"
Seumur hidup saya, melaksanakan salat Id itu bersama keluarga tercinta. Tapi, kali ini beda, sedih banget. Rasanya itu ada satu elemen penting Lebaran yang sakral hilang. Esensi Lebaran jadi sangat berkurang,"
mudik, atau salat Id di lapangan pada hari Lebaran tahun ini. Memang ini berat, tapi kita alami dan hadapi bersama-sama. Semoga pandemi ini segera berlalu agar kita dapat bertemu dan saling melepas rindu,"
6 hal yang mungkin saya rasakan saat nggak bisa mudik lebaran
1. Keresahan selalu timbul setiap kali teman-teman membawa topik lebaran dan mudik ke kampung halaman
Pertanyaan-pertanyaan klise silih berganti menyapamu dari tutur kerabat dekatmu. Awalnya terdengar wajar, tapi semakin lama pertanyaan serupa makin mengusik kenyamananmu. Bukannya tersinggung, namun siapa sih yang nggak mau pulang? Pastinya mau cuma memang pada saat ini kamu nggak bisa pulang.
3. Hari demi hari menjelang lebaran teman-teman pada mudik statusnya, sebab teman satu per satu pergi. Di sinilah rasa sepi mulai menjangkit
Selain tak bisa bertemu keluarga, satu hal yang membuatmu merasa miris adalah ketika tak ada teman untuk menghadapi kesendirianmu di tanah rantau. Rasa sepi itu mulai menjangkiti pada pertengahan puasa saat temanmu satu per satu pulang kembali ke peraduan. Suasana mendadak sunyi, terpaksa ke mana-mana kamu mesti sendiri, dan hari-hari kamu jalani sebagai penyendiri.
4. Pada Hari Raya Idul Fitri semua kegalauan pun pecah, rasanya ingin tidur seharian daripada terus menerus sendu saat ingat rumah

Puncaknya adalah saat lebaran tiba. Hari raya suci yang biasanya kamu mulai dengan shalat ied bersama di masjid bersama keluarga, terpaksa kamu jalani sendiri. Momen hangat bertemu sepupu-sepupu dari jauh hanya bisa kamu bayangkan dalam angan. Tak ada pula nostalgia saat bertemu teman-teman kecil dulu. Kerinduan jadi satu dan rasanya ingin tidur saja daripada galau dan sendu menahan rindu-rindu berkecamuk dalam kalbu.
5. Lebaran di rantauan makan apa saja serasa tak enak, karena cuma cita rasa masakan buatan mama yang terngiang di kepala

Lebaran identik dengan opor ayam sebagai hidangan santap pagi. Buah tangan ibu sebagai koki semakin bertambah lezat saat disantap bareng keluarga. Kerinduan akan kampung halaman dan suasana lebaran mungkin sudah kamu siasati dengan mencari santapan opor ayam, tapi nyatanya tak ada yang mampu mengalahkan opor ayam buatan ibu yang sudah terlanjur terkecap lezat di lidah serta ingatanmu akan masa kecil dulu di kampung halaman.
6. Menelpon rumah jelas satu-satunya cara membunuh rindu, mendengar suara ayah dan ibu

Obat rindu akan rumah paling mujarab dan setidaknya bisa mengobati kerinduan rumah adalah dengan mendengar suara ibu. Ya, itulah hal yang sedikit bisa mendistraksi kegalauan dan kesepianmu menjalani lebaran di rantauan. Lebih jauh lagi bisa memanfaatkan video call untuk melihat rupa ibu, ayah, kakak, adik dan saudara-saudaramu lainnya saat mereka sedang berkumpul di rumah.
Memang menyedihkan tak bisa berlebaran di kampung halaman. Tapi setidak Eru Ting ya kamu, hidup selelu menawarkan dua sisi. Berlebaran sendiri sejatinya bisa kamu jadikan pelajaran untuk dirimu sendiri. Di saat seperti inilah sejatinya kamu bisa merenung dan meresapi arti pentingnya sebuah pertemuan dengan keluarga. Sehingga ke depannya kamu menjadi lebih bijak menyikapi waktu libur adengan memanfatkannya sebagai momen untuk pulang dan bertemu keluarga.
Semoga artikel ini bisa sedikit menghibur anak-anak kos yang jarang pulang kampung, ya… Nah, khusus buat saya yang lebaran terpaksa bengong di kosan, semoga bisa tetap bahagia menyambut hari raya. Semangat ya, guys!