“Hukum asal dari segala sesuatu adalah Mubah kecuali ada dalil yang menunjukkan keharamannya.” As-suyuthi, 1983:133
Bahwasannya ada seseorang bertanya kepada Nabi Shalallahu alayhi wasallam : “wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang bisa memasukan aku ke dalam surga dan menjauhkan aku dari neraka,” HR. Bukhari & HR. Muslim.
Maka Nabi Shalallahu alayhi wasallam bersabda: “Sungguh dia telah di beri Taufiq dan hidayah, engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, menegakan shalat,zakat, dan engkau menyambung silaturahmi.” HR. Bukhari & HR. Muslim.
Setelah orang itu pergi Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika dia melaksanakan yang aku perintahkan tadi, pastilah dia masuk surga.” HR. Bukhari & HR. Muslim.
Tak hanya itu, sosial media di anggap cocok sebagai media dakwah ataupun ajaran islam, dengan mengajak dan menyerukan informasi berbentuk tulisan melalui media sosial, termasuk salah satu ibadah yang baik dan dapat pahala dari Allah SWT.
Sebagaimana Allah SWT berfirman, apakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru menuju Allah, mengajarkan yang shalih dan berkata: “sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” QS. Fushshilat : 33.
Pertama, membuat status berisi di sosial media dalam rangka mengajarkan doa yang shaleh kepada orang lain, misalnya memposting doa yang benar ketika hendak tidur atau bangun tidur, hendak dikir pagi ataupun doa selama hujan dan seterusnya. Kegiatan semacam ini termasuk amal shaleh, karena di nilai sebagai dakwah.
Sebagai mana Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “siapa yang menunjukan kebaikan, dia akan mendapatkan pahala seperti pahala pelakunya (orang yang mengikutinya).” HR. Muslim 1893.
Kedua, doa yang sifatnya pribadi atau doa yang tidak selayaknya di dengar orang lain maupun di sebarkan di sosial media. Seperti doa yang isinya penyesalan atas perbuatan maksiat yang di lakukan atau doa yang isinya keluhan masalah pribadi yang tidak selayaknya di ketahui orang lain, karena kita di ajarkan untuk selalu menjaga kehormatan dan tidak membeberkan aib pribadi.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengatakan: “setiap umatku di maafkan (kesalahannya) kecuali orang-orang yang melakukan Mujaharah (terang-terangan bermaksiat), dan termasuk sikap Mujaharah adalah seseorang melakukan perbuatan dosa di malam hari, kemudian pagi harinya dia membuka rahasianya dan mengatakan wahai Fulan, tadi malam aku melakukan seperti ini, seperti ini, padahal Allah telah menutupi dosanya di malam hari namun di pagi hari dia singkap tabir Allah pada dirinya.” HR. Bukhari 6069.
Selain berdoa lalu bagaimana jadinya jika kita juga sering mengeluh di sosial media, terlebih lagi saat ini sosial media di anggap sebagai tempat untuk mencurahkan isi hati, di lansir dari situs Aisyiyah, terkait mengeluh di sosial media hal tersebut di anggap sebagai perilaku tercela. Mengeluh meskipun sifat bawaan pada diri manusia.
Allah SWT berfirman: “sesungguhnya manusia di ciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, apabila dia di timpa kesusahan dia berkeluh kesah.” QS AL-Ma’arij : 19-20.
Tidak termasuk dalam kategori yang di cela ayat tersebut, bahkan para nabi pun mengeluhkan kesusahan hidupnya kepada Allah, namun perlu di catat bahwa keluhan tersebut hanya di alamatkan kepada Allah semata dan sifatnya intim antara seorang hamba dan tuhannya. Oleh karena itu mempublikasikannya ke sosial media yang di baca oleh banyak orang tidaklah patut untuk di lakukan.
Sebagaimana Allah SWT berfirman ya’qub menjawab: “sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak ketahui.” QS Yusuf : 86.
Dari penjelasan tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa berdoa di sosial media di perbolehkan asal sifatnya dakwah atau mengajarkan hal kebenaran sesuai syariat Islam, sebagai umat muslim yang taat kita pun di anjurkan hanya mengadu dan berkeluh kesah terhadap Allah SWT dan tidak perlu di umbar.
Jika bermanfaat dan kalian suka dengan artikel ini, jangan lupa bagikan ke teman dan keluarga kalian ya. Karena dari Utsman Bin Affan Radhiyallahu Anhu : “sebaik-baiknya kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an kemudian mengajarkannya kepada orang lain.” HR.Al-Bukhari (5027)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar